sesungguhnya anak kita adalah anugrah sekaligus amanah dari Allah SWT yang harus kita tunaikan. Marilah kita lihat bagaimana Allah dan Rasul-Nya mengajari kita tentang anak-anak kita. “Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air.” (QS.26:133-134)
“Warisan bagi Allah ‘Azza wajalla dari hambaNya yang beriman ialah puteranya yang beribadah kepada Allah sesudahnya.” (HR. Ath-Thahawi)
“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.”(QS.8:28)

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar.”(QS.64:14-15)

“Tiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah-Islami). Ayah dan ibunya lah kelak yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi (penyembah api dan berhala).” (HR. Bukhari)

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”(QS. 4: 9)

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”(QS.18:46)

Allah menganugrahkan anak-anak baik kepada orang beriman maupun yang kafir serta mengujinya sebagai amanah. Hendaknya orang tuanya merawat, mendampingi dan mendidiknya agar menjadi hamba(abdi)-Nya yang beriman dan bertakwa kepada Allah. Untuk itu kita sebagai orang tuanya hendaknya membekali hidupnya dengan ilmu dan ketrampilan hidup.

Dengan ilmu anak-anak kita mampu mengenal jati dirinya dan dengan itu dia mampu mengenal Allah sebagai Yang Maha Berilmu (Al-Alim), sekaligus sebagai Rabb (Pemelihara dan Pendidik) semesta alam beserta isinya. Setelah mengenal Allah secara haq, maka Hakikat Kehidupan pun dia mengerti. Selanjutnya Ketrampilan hidup akan membuat anak-anak kita mampu mencari dan memelihara harta dan alam, sebagai tempat hidup mereka.

tujuan orang beriman menuntut ilmu adalah agar dia menjadi ‘alim ( mengerti). Mengerti bahwa hakikat ilmu adalah sarana untuk mengenal Al-‘Alim (Sang Maha Berilmu). Kedudukan ilmu di mata Allah lebih tinggi dari pada harta. Kepuasan orang berilmu adalah ketika dia mengerti hakikat segala sesuatu dan mengetahui bahwa sumbernya adalah Allah Rabbul Alamin.
Memang kebanyakan orang sekarang sudah salah kaprah, banyak orang yang mengira menuntut ilmu yang tinggi agar bisa menjadi kaya, berkedudukan sosial yang terpandang, dsb.

Bagi orang berilmu yang beriman, harta dan status sosial yang terpandang adalah amanah yang harus dipertanggung-jawabkan kepada Allah di hari Akhir nanti. Inilah hal penting yang harus kita didikkan kepada anak-anak kita.
Selain ilmu, anak-anak juga hendaknya kita bekali dengan ketrampilan hidup.
Pemilihan ketrampilan hendaknya disesuaikan dengan bakat yang Allah berikan kepada anak kita. Dalam hal ini Rasulullah saw. memberi petunjuk kunci:
Diriwayatkan dari Imran ibn Husain ra. Bahwa seseorang berkata, “Ya Rasulullah, dapatkah penghuni surga diketahui (dipisahkan) dari penghuni neraka? “ Rasulullah saw menjawab: “Ya.” Kemudian orang itu bertanya lagi, “Jika demikian, mengapa orang-orang harus beramal?” Rasullulah saw. menjawab,”Setiap orang beramal untuk apa dia diciptakan atau untuk apa dia dimudahkan” (HR Bukhari).

sesungguhnya di mata orang-orang tertentu yang mata bashirah(mata hati)-nya mampu melihat dengan haq, para calon ahli surga dan neraka sudah dapat diketahui (dengan izin Allah kepada mereka), tapi tidak boleh dikatakan kepada siapa pun tanpa alasan yang haq.
Kemudian tentang amal perbuatan manusia di dunia ini sebenarnya kalo kita dapat mengenal jatidiri kita sehingga bakat anugrah Allah kita kenali, maka dengan mengasah dan menggunakan bakat itu kita akan Allah mudahkan menjalani kehidupan ini.
Jadi, sangat penting kita memiliki ilmu yang menjadikan kita mengenal diri kita sendiri, termasuk bakat-bakat kita, lalu dengan bakat-bakat yang kita asah dan latih itu kita menjadi trampil dalam kehidupan.

Ketrampilan hidup itu meliputi a.l. ketrampilan belajar (membaca, menulis, berfikir, dsb.), ketrampilan merawat kesehatan, ketrampilan mencari dan mengelola uang/kasab (berdagang, bertani, dsb.), ketrampilan berkomunikasi/interaksi sosial, ketrampilan mengelola keluarga/perkawinan.
Itulah ketrampilan hidup yang semestinya kita bekalkan kepada anak-anak kita melengkapi ilmu agar mereka menjadi insan-insan dewasa yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT serta siap menghadapi tantangan zaman ketika mereka dewasa nanti.